[Freelance] Janji Peri Part 3

1233551_718349211512654_1004960227_n

 

Author : Mila (Sora)

Cast:

  • Lee Minho
  • Ryu Hwayoung

Genre: Romance, Slice of Life

Rate: PG 13

annyeong, setelah rin bawa ff 123, rin juga bawa ff dari sora eonnie.. dan maaf ya, untuk part 2’nya kalo reader ada yg mau baca, cari aja dipage kita disini , maaf atas keteledoran rin dan ketidak nyamanan reader sekalian, rin kemaren ng’postnya buru-buru. rin ga bisa ngehapus page dan ganti jadi sebuah postingan, karena disana ada seorang reader yg udah komen, dan rin ngehormatin dia dengan cara ga ngehapus page. *a-dah-ni-author-gaje*

okey, happy reading reader..

 Janji Peri

“fanfic ini merupakan saduran dari Komik berjudul Janji Peri karya Emi Takada”

1234286_718349128179329_1930443135_n

“Hwayoung?!!!” aku menatapnya heran setelah berhasil berdiri, kenapa dia bisa tau kalau aku ada disini? Wajahnya memerah, air matanya bercucuran.

“Apa yang oppa lakukan?!!!” serunya sambil terisak, ia masih terduduk, lututnya terluka, mungkin karena terbentur saat aku menimpanya.

“Aku ingin menyusul ibuku, aku sudah tidak ada gunanya ada disini.” Ucapku lemah sambil mencoba tersenyum padanya.

“Kata siapa oppa tidak berguna? Lalu aku mau oppa kemanakan?”ia masih menyeru padaku, ia sudah berdiri sekarang.

“Aku sudah bosan dengan hidupku, tidak ada yang mempedulikanku, tidak ada yappppp….” aku terkejut, tiba-tiba saja Hwayoung menciumku. Tak lama kemudian di melepas ciumannya, sementara otakku masih melambat.

“Kalau oppa seperti ini, aku juga tidak mau berusaha lagi.?!!!” Serunya, lalu ia pergi meninggalkanku, aku terpaku, rasanya keinginanku untuk mati menghilang, namun hatiku merasa sedih melihatnya pergi dengan tangisan seperti itu. Aku menatapnya sendu.

. . .

Author POV

Seorang wanita sekitar 45 tahunan mengamati nomor rumah yang ada dihadapannya, tepatnya nomor rumah yang terpasang di kediaman keluarga Lee. Ia mencocokan dengan kartu tanda pengenal yang ia bawa, setelah yakin bahwa alamat yang ia cari benar, ia menekan bel pintu rumah keluarga Lee.

Ting Tong….

“Dengan siapa?” jawab suara seorang pria sesaat setelah ia menekan bel pintu.

“Saya Lee Young Ae, saya datang kemari ingin mengembalikan dompet atas nama Lee Minho yang saya temukan beberapa hari yang lalu.” Lalu pintu rumah dibuka, seorang pemuda muncul dari balik pintu.

“Anda yang bernama Lee Minho?”

“Iya saya Lee Minho, terima kasih karena ibu sudah mau mengantarkan dompet saya.” Jawab Minho sopan. Lee Young Ae langsung sumringah mendengarnya.

“Kamu anak yang tampan Minho-ya.” Mendengar kata-kata wanita yang baru saja dikenalnya Minho keheranan, siapa dia sebenarnya?

. . .

Minho POV

“Kamu anak yang tampan Minho-ya.” Ucap wanita yang berdiri dihadapanku. Apa dia mengenalku? Kenapa akhir-akhir ini banyak orang yang tidak ku kenal yang mendatangiku? Sinar matanya, aku seperti pernah melihatnya, dimana ya?

Tak lama kemudian ia menyerahkan dompetku.

“Aku ibu Ryu Hwayoung, apakah kamu masih ingat dengannya?” DEG… tiba-tiba saja jantungku serasa berhenti sesaat. Kenapa aku tidak pernah mengingat apapun tentang Hwayoung?

“Maukah kamu ikut denganku menengok Hwayoung, sebentar saja.” Pintanya padaku, ia tersenyum.

“Baiklah, tolong tunggu sebentar ya tante. Silahkan tunggu di dalam.” Aku mengiyakan ajakkannya dan segera mengganti pakaianku. Dengan perasaan ragu aku mengiyakan ajakannya. Hwayoung, siapa kamu sebenarnya?

. . .

Kenapa, kenapa ibu Hwayoung mengajakku ke tempat ini? Hatiku menjadi was-was, apa yang sebenarnya terjadi?

“Ibu jangan pergi ibu, aku nggak mau sendirian, huaaaaa” seorang anak kecil dengan perban di kepalanya menangis saat ibunya pergi.

“Yoorae-a ibu mau pulang sebentar mengambil pakian, nanti ibu kembali lagi. Kamu bermainlah bersama suster dulu.” Ucap sang ibu menenangkan.

“Tidak mau, aku takut ada di sini ibu. Huaaaa” rengeknya, namun sang ibu tetap saja pergi. Kasian anak itu, apa yang membuatnya mendapat perban dikepalanya itu sehingga ia harus dirawat di rumah sakit ini?

Tak lama kemudian ibu Hwayoung memberiku baju steril milik rumah sakit dan mengajakku ke ICU. Hatiku benar-benar tidak mau tenang.

“Kalau kamu menemuinya, kamu akan mengerti.” Ucap ibu Hwayoung. Lalu ia membuka pintu kamar Hwayoung. Deg deg deg deg jantungku semakin tidak karuan, apa yang terjadi?

“Hwayoung-a, Minho oppa datang menjengukmu.” Sapa ibunya. Seketika itu juga jantungku terasa berhenti. Bunyi mesin detak jantung memenugi ruangan, alat bantu bernafas mendesis memilukan. Dihadapanku Hwayoung tengah tertidur dengan selang infus yang menancap di lengannya dan alat bantu bernafas yang dipasang di lehernya. Mata kiri dan kepalanyanya dibalut perban.

‘Ini bohongkan?’ batinku, aku tak percaya. Tanpa terasa air mataku meleleh.

“Hwayoung-a, Minho oppa yang paling kamu sayang ada di sini. Kamu pasti senang bukan?” tutur ibunya kembali sambil mengelus lembut rambutnya yang dipotong pendek karena luka-lukanya.

“Dia dalam keadaan koma karena kecelakaan lalu lintas sebulan yang lalu. Kata dokter, kalau nasibnya baik, dia akan pulih namun hanya bisa terbaring seperti ini karena tangan dan kakinya lumpuh.” Nyonya Ryu menceritakan semuanya padaku.

‘Jadi, Hwayoung yang aku temui itu apa?’ ucapku dalam hati. Semua ingatanku selama sebulan terakhir bersama Hwayoung berputar kembali.

“Minho katakanlah sesuatu, aku rasa Hwayoung bisa mendengarmu” ibu Hwayoung mempersilhkanku bicara.

“Hwayoung, kenapa kamu tidur di tempat seperti ini?!” seruku.

. . .

Setelah keluar dari ruang ICU kami duduk di ruang tunggu. Hatiku benar-benar kacau, pikiranku terbang entah kemana. Aku tertunduk lesu di hadapan Ibu Hwayoung.

“Hari ini aku sangat berterimakasih. Kamu itu cinta pertama Hwayoung.” Ucap Ibu Hwayoung sambil tersipu. Rasa bersalah yang amat sangat menjalar dalam diriku, marah, sedih dan merasa bodoh campur aduk dalam hatiku.

“Maafkan aku, aku tidak ingat Hwayoung waktu SD.” Aku tertunduk malu.

“Jangan dipaksakan. Mungkin karena Hwayoung hanya beberapa bulan saja dan Hwayoung adalah adik kelas mu. Suamiku sering dimutasikan belum lagi keadaan Hwayoung yang lemah, sehingga ia sering tidak masuk sekolah, teman pun tidak punya. Sepertinya dia selalu kesepian. Pada hari itu…”

Flashback Author POV

Hwayoung kecil yang tengah melewati waktu istirahat di bangku depan kelasnya merasa tidak enak badan. Kepalanya berdenyut-denyut, perutnya serasa diaduk-aduk, wajahnya pucat, peluh keluar dari dahinya. Ia merasa sebentar lagi ingin muntah namun ditahannya setengah mati, malu dengan temannya.

“Hoekkkk…” akhirnya Hwayoung tidak dapat menahannya lagi, ia muntah di sana. Segera saja temannya menertawakannya.

“Hwayoung muntah,,, ih jijik! Bau!!” seru teman-temannya. Mendengar hal itu ia pun menangis, tak pernah sekalipun teman-temannya mengerti dirinya. Tiba-tiba seseorang mengulurkan tangannya memberikan sebuah sapu tangan bersih.

“Kamu nggak papa? Ayo aku antar ke ruang kesehatan.” Ucap seorang anak laki-laki yang entah sejak kapan sudah ada di depannya.

“Tidak usah malu, aku juga pernah muntah empat kali di mobil ayah. Ayahku marah besar padaku karna waktu itu memakai mobil baru. Mau gimana lagi, habis jalannya berkelok-kelok.” Hwayoung menerima sapu tangan anak laki-laki yang diketahuinya sebagai sunbaenya. Ia terpana dengan kebaikan hati sunbaenya itu.

“Namaku Lee Minho dari kelas 6B.” Ucap anak itu sambil mengajak Hwayoung ke ruang kesehatan.

“Cie.. cie.. aduh mesranya..” Ejek teman-teman Hwayoung. Hwayoung malu setengah mati pada Minho Sunbae.

“APANYA YANG CIE CIE.. BERANI NGELAWAN SUNBAE?!” Bentak Minho tegas, seketik itu juga teman-teman Hwayoung langsung kabur. Hwayoung kembali terpana, jantungnya berdebar. Orang pertama yang menolong dan membelanya selain kedua orang tuanya adalah Minho.

. . .

Di dalam mobil antar antar jemput Hwayoung terus menggoyang-goyangkan kakinya. Ia tidak sabar untuk menceritakan kejadian hari ini pada eommanya. Tak lama kemudian mobil antar jemput tiba di depan rumahnya. Tanpa basa-basi ia melesat turun dari mobil, lupa jika ia sedang sakit. Ia membuka pintu rumah dengan tergesa dan langsung mencari ibunya.

“Aku pulang! Eomma.. Eomma..!?” serunya.

“Eomma, Hari ini Minho sunbae menolong Hwa tanpa perduli saputangannya kotor dan diejek teman-teman Hwa. Hwa sangat senang.” Ucapnya antusias.

“Syukurlah Hwayoung.” Ibunya amat bahagia mendengar hal itu.

Sejak saat itu Hwayoung selalu bercerita tentang Minho setiap hari pada ibunya. Namun tak lama kemudian pekerjaan ayah Hwayoung dipindahtugaskan ke kota lain sehingga Hwayoung harus pindah sekolah mengikuti ayahnya.

Beberapa tahun kemudian Hwayoung dan keluarganya kembali lagi ke Seoul. Hwayoung senang sekali, ia tak sabar untuk bertemu dengan Minho. Ibunya tahu bahwa Minho adalah cinta pertama Hwayoung.

“Kyaaaaaa… kita kembali ke kota Minho oppa. Bagaimana kalau kebetulan ketemu Minho oppa? Minho oppa berubah tidak ya? Apa oppa sudah punya pacar? Oppa tidak pindah dari Seoul kan?” ceracaunya.

“Kamu ini semangat sekali.” Ucap ibunya sambil menggelengkan kepala.

“Pokoknya aku mau jalan-jalan dulu sebentar.” dengan semangat Hwayoung bergegas untuk pergi.

“Kamu harus sudah sampai di rumah saat makan malam ya sayang?” ucap eommanya.

“Baik Eomma.” Ia pun pergi.

Namun tiba-tiba saja hal yang tidak di sangka-sangka terjadi.

“Aku akan bertemu Minho oppa. Yeah bertemu Minho Op…”

“AWAS!!!” seru orang-orang. “Brakkkkkk….” suara keras terdengar.

“Aku Malaikat.”

 

Iklan

2 thoughts on “[Freelance] Janji Peri Part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s