King and I (Part 1)

Author : Nadya

Cover by : Rinda

Cast : Ryu Hwayoung, Lee Sungjong, Kim Dasom, dkk. Cari sendiri ye!

Genre : Romance, Fantasy, Sageuk

Length : Insya Allah Twoshots hehe

Disclaimer : Plot sebagian terinspirasi dari drama Dong Yi+Jang Ok Jung, sebagian lagi asli dari otak author, jadi kalau ceritanya geje jangan kaget#plakkk
Warning!!! Typo bertebaran + istilah-istilah sageuk setiap saat nongol, tapi tenang! Author bakal kasih minidict di bawah. NO COPAS! NO BASH! JUST MY EPEP(?)!
HAPPY READING YOROBEUN!!!

Tap! Tap! Tap!

Derap langkah seorang wanita terdengar kian menyepat ketika melewati gang sepi nan gelap di salah satu sudut jalanan Hanyang. Sepasang mata besarnya tak lupa sesekali mengamati keadaan sekitar, terlihat jelas sedikit rasa takut di wajahnya. Dieratkannya Jang-ot berwarna hijau tua yang sedari tadi menutupi permukaan Hanboknya.

Srekkk!

“Siapa disana?!” Pekiknya sambil menoleh ke belakang, tentu saja terkejut oleh suara misterius itu.
Hening.
Tetap tak ada balasan dari pertanyaannya. Wanita itu mengelus tengkuknya, merinding. Ia kembali meneruskan langkahnya, kali ini setengah berlari. Saat ia menoleh ke belakang sekali lagi, tiba-tiba sesosok tangan mendarat di bahunya.

“AAAAAAAHHH KUMOHON LEPASKAN AKU! Kau boleh mengambil semua uangku tapi tolong jangan membunuhku!!!”
Wanita itu berteriak ketakutan. Ia yakin saat ini sekelompok perampok yang sering meresahkan penduduk tengah berdiri di hadapannya.
“Yah kenapa kau ketakutan seperti itu?”
Suara seorang pria yang terdengar keheranan menyahuti teriakan histerisnya. Wanita itu terhenyak, perlahan membuka matanya yang menutup rapat karena ketakutan. Siluet dua orang pria tergambar di depannya.

“Na-ri? Apa yang kalian lakukan disini malam-malam?” Tanyanya heran mendapati dua pria itu ternyata orang yang dikenalnya. Pria muda berpakaian seperti kaum Yangban pada umumnya itu berdecak geli.

“Aigoo kau itu, selalu saja pelupa! Aku ini pejabat apa? Tentu saja aku keluar malam-malam untuk memeriksa keadaan. Apa kau mengerti, Nain Ryu?”
Gadis itu tersenyum kikuk sembari menggaruk sedikit tengkuknya, lalu buru-buru membungkuk.
“Jweosonghamnida, saya memang pelupa, dan juga sudah salah sangka terhadap anda, jeongmal jweosonghamnida!” Ujarnya sambil membungkuk lagi. Pria muda itu terkekeh kecil.
“Sudahlah, seharusnya aku yang harus meminta maaf karena mengejutkanmu, jeongmal jweosonghe.”
Gadis itu merasa tidak enak.
“Annimnida Na-ri, Kwenchanseumnida.”

 

Mereka lalu berjalan bersama setelah sebelumnya pemuda berpakaian sutera itu menawarkan diri untuk mengantar.
“Sekarang aku yang akan bertanya, apa yang dilakukan seorang gungnyeo biasa di jalanan sepi malam-malam begini?”
Gadis itu kembali tersenyum kikuk.
“Ah saya mendapat tugas keluar istana untuk melakukan sesuatu,”
“Keurae? Melakukan apa?”
“Hanya mengirimkan baju hadiah dari Chu Sang Cheonha untuk So Ui mama yang sekarang tinggal di luar istana,”
Pria muda itu menatap gadis Nain di sampingnya tak percaya, namun kemudian tersenyum simpul.
“Jadi kau sudah mengirimnya…” Gumamnya.
“Ye?” Tanya gadis gungnyeo itu tak mengerti dengan gumaman lawan bicaranya.
“Ah bukan apa-apa, bagaimana? Apa pekerjaan di bagian jimbang melelahkan?”
Tanya Pria Yangban itu berusaha mengalihkan pembicaraan. Gadis bermarga Ryu tersenyum.
“Sedikit. Tapi setidaknya sesuai dengan keahlian saya,”
“Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Ye, Na-ri.”
“Kenapa kau ingin menjadi gungnyeo? Bukankah kau mengetahui sendiri betapa kerasnya hidup di istana, dan lagi sebagai wanita milik raja, kau dilarang untuk menikah, kenapa kau tetap menginginkannya?”

 

Gadis gungnyeo bernama asli Ryu Hwayoung itu terdiam sejenak, lantas menghela nafas.
“Apa saya harus mengatakannya pada anda, Na-ri?” Tanyanya sedikit ragu.
“Tentu saja! Aku ingin tau, jadi katakan saja. Bukankah kita ini sahabat?”
“Na-ri…”
“Kenapa? Apa alasanmu begitu mengerikan? Kenapa terlihat ragu-ragu?”
Hwayoung sedikit menunduk sambil tersenyum masam.
“Sebenarnya tidak juga, hanya saja saya merasa itu lancang jika melihat posisi saya sekarang.”
Pria muda itu menatapnya heran. Tiba-tiba sedikit terbersit di pikirannya, apa mungkin maksud gadis itu adalah ‘perhatian raja’.
“Bagaimana bisa disebut lancang? Hampir semua gungnyeo di istana juga memiliki alasan seperti itu saat mereka masuk istana,”
Hwayoung membulatkan matanya tak percaya.
“Benarkah? Bagaimana anda tahu jika mereka juga ingin menyulam baju untuk Chu Sang Cheonha?”
Pria muda itu menatap Hwayoung bingung. “A-Apa?”
Pria muda satu lagi di belakang mereka yang Hwayoung kenal sebagai pengawal pria Yangban sedikit terkekeh seperti menahan tawa, membuat majikannya memberinya tatapan membunuh.
“Ehem!”
Pria yangban itu sedikit berdehem karena merasa gugup, sementara Hwayoung menatapnya seakan menunggu jawaban.
“Jadi, hanya itu alasanmu menjadi gungnyeo?”
“Y-Ye… Terdengar lancang bukan? Bisakah anda merahasiakannya, Na-ri?” Ujarnya setengah berbisik memohon. Pria Yangban itu hanya geleng-geleng kepala, namun kemudian membalas dengan senyuman.
“Gomapseumnida, Na-ri.”

 

Tanpa terasa mereka berjalan hingga akhirnya sampai di depan gerbang istana. Mereka berpisah setelah Hwayoung mengucapkan terima kasih pada dua pria muda yang telah mengantarnya. Si pria Yangban menatap punggung Hwayoung yang mulai menjauh lalu hilang dibalik gerbang kokoh istana. Ia tersenyum kecewa.

“Sunggyu-ya…”
“Ye, Cheonha?”
“Apa kau mendengarnya tadi? Aku mengharapkan ia juga memiliki keinginan seperti gungnyeo-gungnyeo lain…”
Kim Sunggyu, pengawal pribadi raja itu hanya terdiam menunduk. Dibanding siapapun, saat ini ialah yang paling dapat memahami perasaan rajanya.
“Tapi impiannya hanya membuat sulaman untuk bajuku, benar-benar!” Gerutunya.
“Cheonha!”
“Jangan khawatir, aku tidak akan menyerah begitu saja. Sebagai penguasa negeri ini, bagaimana mungkin aku tidak bisa mendapatkannya?”
“Jweosonghamnida, Cheonha.”
“Yah kenapa kau meminta maaf? Sudahlah, ayo kita kembali ke Daejeon!”

Hwayoung membuka pintu geser menuju kamarnya perlahan. Pemandangan pertama yang dilihatnya tak lain teman sekamarnya, Lee Soomi tengah membolak-balik buku di atas meja kecilnya.
“Kau sudah pulang?” Sapanya saat sosok Hwayoung sudah duduk di hadapannya.
“Ne. Eonnie, apa matamu tidak merasa lelah? Sudah semalam ini kau masih saja membaca?”
Soomi hanya tersenyum kecil jika sahabat Nain-nya sudah mulai mengeluhkan kebiasaannya.
“Membaca juga salah satu hiburan, Hwayoung-ah. Kau sendiri? Ini hampir jam malam, beruntung gerbang istana belum ditutup.”
Hwayoung sedikit mendengus kesal.
“Eonnie, kalau soal itu kau bisa tanyakan pada Oh Sanggung, bagaimana mungkin dia memberiku tugas keluar di sore hari, jarak kediaman So Ui mama tidak sedekat Daejeon menuju Naeuiwon,”
Senyuman kecil Soomi berubah menjadi kekehan.
“Arasseo. Istirahatlah. Kau pasti lelah,”
Hwayoung mengangguk mengerti, ia lantas mulai membuka ikatan otgoreum seragam Nain-nya.

 

“Eonnie…” Panggilnya pelan pada gadis yang masih berkutat pada bukunya.
“Eum? Ada apa?”
“Apa mempunyai mimpi yang tinggi bagi seorang Gungnyeo, adalah sebuah kesalahan?”
Soomi mengerutkan keningnya, menghentikan kegiatannya sejenak lalu menatap Hwayoung bingung. Wajah gadis itu terlihat muram.
“Apa seseorang mengetahuinya lalu mengejekmu lagi? Sudah kubilang jangan membicarakan hal-hal klise sembarangan, istana bukan tempat yang aman dalam menyimpan rahasia.” Ujar Soomi dengan datar sembari melanjutkan bacaannya. Ini bukan pertama kali Hwayoung bertanya demikian padanya.
“Aniyo! Aku kan hanya bertanya,” Protes Hwayoung, kali ini Gungnyeo itu telah siap berbaring di atas kasur lantainya.
“Aish! Lalu jangan bertanya hal-hal bodoh lagi, sudah tidur sana!”
“Eonnie, kau sendiri belum tidur!”
Soomi menghela nafas. Dengan segera ditutupnya buku di depannya, lalu meniup lilin sumber penerangan kamarnya dan Hwayoung. Mau bagaimana lagi, ia tak mau lebih lama berdebat.
“Keurae, sekarang cepat tidur!” Perintah Soomi dibalik selimutnya. Diam-diam Hwayoung tersenyum, namun sedetik kemudian pikirannya kembali teringat pejabat kepolisian yang sudah beberapa bulan ini dikenalnya.
“Apa Na-ri itu bisa dipercaya? Lagipula kenapa aku terus memikirkannya? Ah tidak, siapa pula yang akan tertarik tentang seorang Gungnyeo biasa?” Gerutunya dalam hati dan berakhir dengan menenggelamkan diri dalam selimutnya.

Kening wanita itu mengerut dalam, matanya menyipit menandakan otaknya tengah bekerja keras. Beberapa kali jemarinya hendak menyentuh sesuatu, beberapa kali pula diurungkannya.
“Ini serangan terakhir saya yang keempat kalinya, Cheonha.” Ujarnya diikuti senyuman kecil di wajah manisnya.
“Aigoo! Aratta, kelihatannya aku sudah salah memilih waktu bermain baduk denganmu, Jung-jeon.”
Kim Dasom, sang Ratu hanya geleng-geleng kepala menatap wajah konyol suaminya setelah empat kali berturut-turut ia kalahkan di atas papan baduk.
“Anda benar, Cheonha. Semenjak dimulai, pikiran dan hati anda sedang tidak berada dalam permainan ini. Saya menjadi penasaran dimana keberadaan mereka sekarang,”
Sungjong hanya tersenyum kikuk. Sungguh, jika ada orang lain yang tengah bersama mereka berdua di ruangan luas itu, mungkin ia akan langsung tertawa.
“Entahlah, Jung-jeon. Mungkin aku terlalu lelah,”

 

Hati Dasom semakin tergelitik. Bukan, ia yakin ada alasan lain mengapa suaminya menjadi sedikit murung.
“Apa para pria paruh baya itu membuat masalah lagi pada anda, Cheonha?” Tanya sang ratu penuh perhatian. Sungjong hanya tersenyum tipis.
“Bisa dibilang karena itu juga,”
Dasom sedikit mengangkat sebelah alisnya.
“Lalu, bolehkah saya mengetahui alasan yang lain?”
“Kau tahu Jung-jeon? Aku sungguh bersyukur bisa mempunyai istri sekaligus sahabat sepertimu-”
Sang ratu mengulum senyumnya sedikit tersipu. “Cheonha?”
“Maaf aku tidak bisa mengatakannya sekarang, tapi yang jelas aku akan memerlukan bantuanmu untuk masalah ini nanti.”
“Algeseumnida, Cheonha. Apapun itu tangan saya akan selalu terbuka untuk anda.” Ujar sang Ratu menenangkan.
“Ah dan satu hal lagi, Jung-jeon-”
“Apa itu, Cheonha?”
“Aku takut besok akan ada kegaduhan di antara Dewan istana jika aku keluar dari kediamanmu sekarang juga, apa… Aku boleh menginap disini?”
Dasom sekali lagi tak bisa menahan senyum gelinya.
“Tentu saja, Cheonha. Anda tidak perlu bertanya seperti itu. Kang Sanggung!”

 

Pintu ruangan bergeser lalu muncul seorang wanita ber-dangui hijau tua, seragam para Dayang kepala.
“Ye, Mama?” Sahutnya sambil membungkuk setelah menutup pintu lagi.
“Tempat tidur itu, apa sudah kau siapkan?”
“Ne, Jung-jeon Mama. Ada di dalam lemari anda,” Jawab Kang Sanggung membuat majikannya tersenyum lega.
“Gomapseo. Kau boleh keluar.”
“Ye, Mama.”
Dayang kepala Gyotaejeon itu beranjak setelah membungkuk pada pasangan kerajaan. Raja dan Ratu saling tersenyum lega.

 

 

Pagi yang cerah di istana. Para Gungnyeo dan pengawal sibuk berlalu lalang, tak terkecuali bagian jimbang.
“Sudah kubilang lebarkan sedikit jahitannya! Ulangi!”
Oh Sanggung, wanita paruh baya itu sedikit membentak saat melihat-lihat hasil kerja para Nain yang menjadi anak buahnya.
“Joseonghamnida, Mama-nim.” Ujar Nain yang dibentak dengan takut-takut. Ya, Sanggung ranking 5b itu memang terkenal galak di antara Sanggung bagian jimbang lainnya.

“Sekali lagi kau melakukannya, aku tidak punya pilihan lain selain mengirimmu ke bagian cuci selama sebulan!”
“A-apa? Hajiman, Mama-nim-”
Belum sempat Nain itu protes, Oh Sanggung sudah memelototinya. Tentu saja nyalinya langsung menciut drastis
“Algeseumnida, Mama-nim.”
Begitu atasannya beranjak, si Nain mendesah kesal.

 

“Yah Chanmi Eonnie, kau kenapa lagi eoh?”
Hwayoung yang tengah menjahit tepat di sebelahnya setengah berbisik bertanya dengan penasaran.
“Apa lagi, pasti jarak pinggiran kain yang kau jahit terlalu sempit lagi, benar kan? Sudah kubilang kau memerlukan kacamata, dasar bodoh!”
Soomi yang hendak mengambil benang di meja Chanmi ikut nimbrung menasehati. Chanmi melemparkan tatapan tajamnya.
“Yah Soomi eonnie! Diamlah atau mulutmu yang akan kujahit!”
Nain bermarga Lee itu hanya berlalu dengan cueknya kembali ke tempatnya.
“Eonnie, kupikir kata-kata Soomi eonnie benar juga, kau mungkin memang memerlukannya.”
Chanmi hanya menghela nafas.
“Tapi itu memalukan, Hwayoung-ah. Mereka semua akan mengejekku sebagai nenek-nenek jika memakainya saat bekerja,” Keluhnya.
“Keundae, lebih memalukan mana dibandingkan mencari masalah dengan Oh Sanggung lalu berakhir dengan hukuman?”
Chanmi terdiam, menatap wajah datar temannya dengan frustasi.
“Aish! Moreugesso!!!” Pekiknya sambil membanting gulungan benang.

 

“YAH! HEO CHANMI! APA KAU INGIN AKU MENGHUKUMMU SEKARANG JUGA?!!!”
Sosok yang gadis itu takuti tiba-tiba muncul berkacak pinggang sambil membentak keras di depannya. Chanmi menelan ludah, tubuhnya mendadak panas dingin. Wajah atasannya benar-benar seperti harimau yang siap menerkam mangsanya, belum lagi tatapan para Nain lainnya di ruangan itu.
“A-anim-animnida , Mama-nim. Joseonghamnida, jeongmal joseonghamnida!”
Gadis itu membungkuk sedalam-dalamnya. Oh Sanggung hanya menatapnya tajam, kemudian beralih pada Hwayoung yang langsung buru-buru membungkuk.
“Kau, baju itu apa sudah kau kirim ke kediaman So Ui Mama?”
“Ye, Mama-nim.”
Sanggung itu hanya mengangguk sekilas, kembali beranjak melanjutkan tugasnya.
“Jigeum otteyo? Apa kau masih tidak mau memakainya, eonnie?”
Chanmi menarik nafas dalam-dalam, mencoba meredam emosinya lebih lanjut.
“Jigeum, bisakah kau menutup mulutmu atau jeogori ini tidak akan pernah selesai, Hwayoung-ah…”
Suara Chanmi terdengar sangat lembut, namun sekaligus mengerikan. Hwayoung hanya nyengir sambil mengusap tengkuknya yang merinding.
“Algeseumnida.”

 

 

 

“Apa? Cheonha menyukai seorang Gungnyeo?”
Dasom terkejut mendengar penuturan pria muda di hadapannya.
“Ye, Mama.”
Kim Sunggyu, pengawal pribadi raja itu mengangguk mengiyakan. Dasom tersenyum simpul. Jadi masalah ini yang suaminya khawatirkan hingga membuatnya murung seperti kemarin.
“Gadis itu Gungnyeo dari bagian apa?” Tanyanya lagi, namun Sunggyu terlihat sedikit ragu.
“Jangan takut. Aku tidak akan menyebut namamu jika membahasnya dengan Cheonha nanti.” Ujar sang Ratu menenangkan.
“Dia bekerja di bagian jimbang, Mama.”
“Siapa namanya?”

Sang Ratu masih terdiam, yang terdengar hanya ketukan jarinya pada meja kecil di hadapannya. Sesaat kemudian beralih mengambil sesuatu dari laci di sudut kamarnya. Dengan lembut dibukanya sebuah kotak kecil berisi secarik sutera berwarna kuning, dengan lembut pula dibelainya sutera itu.
“Jika itu benar kau, aku tidak akan berpikir dua kali lagi untuk melakukannya.” Gumamnya dalam hati disertai senyuman manis dari wajah cantiknya.
“Kang Sanggung, apa kau di luar?”
“Ye, Mama…”
Terdengar sahutan dari luar Gyotaejeon. Kang Sanggung segera mendekat pada Ratunya.
“Panggil Sanggung bagian jimbang bermarga Oh kemari. Lakukan secara diam-diam, algeneunnya?” Titah sang Ratu. Kang Sanggung tersenyum sambil membungkuk, lalu dengan segera menjalankan tugas dari majikannya.

 

 

 

—ย 

 

 

 

Hwayoung, Soomi, Chanmi dan seorang calon Nain sedang melipat baju-baju yang telah selesai disetrika.
“Aigoo… Hari ini sungguh melelahkan ya?”
Chanmi memecah keheningan dengan peregangan tubuh begitu pekerjaannya selesai. Soomi menyentil kepalanya.
“Yah memangnya ada hari yang tidak melelahkan bagimu?”
Wajah Chanmi langsung berubah masam, sedang Hwayoung hanya geleng-geleng kepala.

 

“Eonnie, apa mereka selalu seperti itu?”
Calon Nain yang duduk di sebelahnya bertanya heran. Hwayoung tersenyum geli.
“Keurae, Hyewon-ah. Tapi diluar itu, mereka tetap teman yang baik.”
Calon Nain bernama Hyewon itu mengangguk mengerti. Tiba-tiba seorang Nain menghampirinya.
“Kau Hwayoung kan? Oh Sanggung memanggilmu di ruangannya.”
Hwayoung sedikit heran, untuk apa Oh Sanggung memanggilnya?
“Keuraeyo?”

Sementara itu di Gyotaejeon…

“Keurae? Cheonha sudah berangkat dengan penyamaran ke kediaman Orabeoni?”
“Ye, Mama. Saya sudah bertanya pada Kasim Nam. Beliau baru saja berangkat.” Kang Sanggung memperjelas laporannya. Dasom tersenyum sumringah.
“Sekarang hanya menunggu hari menjadi gelap, Yeonggam.”
Wanita itu beralih memandang pria paruh baya di depannya.
“Algeseumnida, Mama.”

 

 

Hwayoung sudah berdiri di depan ruangan kerja Oh Sanggung. Jujur saja, gadis itu sedikit gugup. Kali ini apalagi hal yang akan diperintahkan atasannya itu.
“Mama-nim. Ini saya, Hwayoung.”
“Masuklah!”
Terdengar sahutan dari dalam. Gadis itu menggeser pelan pintu ruangan di depannya. Nampak wanita paruh baya itu tengah duduk tenang di balik meja kerjanya. Hwayoung membungkuk.
“Apa anda memanggil saya?”
“Keurae. Ada tugas keluar istana untukmu.”
Hwayoung memandang Sanggung itu dengan bingung.
“Ye?”
Oh Sanggung mengeluarkan sebuah bungkusan berbalut sutera.
“Antarkan baju ini ke kediaman Kim Daegam! Beliau adalah kakak dari Ratu sekaligus pejabat Yejo.”
Bahu Hwayoung sedikit merosot begitu mendengar tugasnya. Mengirim baju lagi? Aigoo!
“Hajiman Mama-nim, apa tidak akan ada masalah jika saya mengirimnya sekarang? Ini sudah mulai gelap dan-”
BRAKKK!!!
Jantung Hwayoung terasa akan lepas saat atasannya mulai marah seperti sekarang.
“LALU BERANGKAT SEKARANG DAN CEPAT KEMBALI! Tugas ini langsung dari Jung-jeon Mama, apa kau ingin menentangnya?!”
Gadis Nain itu langsung menelan ludah. Jadi ini Ratu sendiri yang memerintahkan.
“A-animnida Mama-nim. Baiklah, saya berangkat sekarang…”

TBC

~Joseon Minidict~

Chu-sang Cheonha / Cheonha : panggilan untuk raja atau Yang Mulia Raja
Daejeon : kediaman resmi Raja Joseon
Dangui : busana istana, biasa dikenakan para dayang istana dan anggota keluarga kerajaan
Gungnyeo : dayang istana
Jang-ot : sejenis jubah menyerupai hanbok, biasa berfungsi sebagai penutup wajah
Jeogori : atasan hanbok
Jimbang : bagian jahit dan laundry di istana
Jung-jeon / Jung-jeon Mama : sebutan untuk Ratu atau Yang Mulia Ratu
Mama : Yang Mulia
Mama-nim : Nyonya, sebutan untuk para Sanggung
Naeuiwon : rumah sakit istana
Nain : dayang istana, tingkatannya lebih rendah dari Sanggung
Na-ri : Tuan
Orabeoni : kakak laki-laki
Otgoreum : tali untuk mengikat jeogori
Sanggung : dayang istana, tingkatannya lebih tinggi daripada Nain
Yangban : kaum bangsawan
Yejo : menteri upacara
Yeonggam : Tuan, lebih tinggi dari Na-ri

hi, i’m back!\(^o^)/
sebelumnya author pengen ngucapin JEONGMAL JEONGMAL MIANHE buat para readers, author keterlaluan hiatusnya*bow180degrees(?)*
buat yg nagih sabar ye, epep2 lain pasti dilanjut, tapi gak tau kapan( ‘_’ )?*disambitreaders*
mian juga buat author rinda jadi update blog sendirian u,u
kali ini author pengen nyoba genre sageuk, harap maklum kalo jadinya geje bin ancur gini#ngekkk
Yosh! Author tunggu RCL-nya…
Bagi yang puasa, met puasa ye!(^o^)v

Iklan

3 thoughts on “King and I (Part 1)

  1. Kyaaa nad eonnie<3 *bow360drajat*/? (Jungkir balik dong ya-_-)
    Ini ff nya kereeen kyaa *Q*, syg nya aku banyak ga ngerti bahasanya o.O
    Tapi kece astaga, serasa saeguk beneran, itu dasom polos tp licik ya–", ditunggu eon! Lanjutkan
    -lovefromchiki<3(?)

    1. Hehe makanya eon kasih minidict, walo masih geje juga lol
      yosh! Tunggu aja rencana jung-jeon mama di part 2, tapi gak tau kapan#ngekkk
      gomawo udah RCL saengi ^3^)<3

  2. holla saeng ^โ€ข^/
    inimah udah bagus.bukan author amatir lagi ๐Ÿ˜ฎ
    keren .tp berhubung eon gak suka sageuk dikarenakan banyaknya cast.istilah” yg ruwet .jd ya rada kurang mudeng ๐Ÿ˜ฆ

    itu sungjong raja kan.terus dia mo poligami ๐Ÿ˜• tp ratu koq santai” wae yo ๐Ÿ˜ก klo aku ya pasti da ku pecel ๐Ÿ˜ก hihi banyak omong aku ๐Ÿ˜€ Maap.Maap /-\

    teruskan saeng โค

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s