[Freelance] Janji Peri Part 2

1233551_718349211512654_1004960227_n

Author : Mila (Sora)

Cast:

  • Lee Minho
  • Ryu Hwayoung

Genre: Romance, Slice of Life

Rate: PG 13

Part 1

 Janji Peri

                           “fanfic ini merupakan saduran dari Komik berjudul Janji Peri karya Emi Takada”

1234286_718349128179329_1930443135_n

*cerita ini diambil dari sudut pandang Lee Minho..

Janji Peri Part 2

Seminggu telah berlalu sejak aku mendiamkan ayah. Sudah seminggu pula aku berubah menjadi anak bodoh. Semua nilai mata pelajaran turun, bolos sekolah dan bolos latihan. Aku tahu dari sorot mata ayah yang melihatku setiap pulang sekolah, ia mengkhawatirkanku. Tapi aku tidak mau tahu. Ayah juga tidak berhenti berhubungan wanita itu demi aku, jadi aku tidak akan berubah kembali.

Latihan club sepak bola semakin intensif karena seminggu lagi turnamen akan dimulai. Kimbum melarangku untuk bolos lagi, ia mengancamku, jika aku bolos lagi ia tidak mau berteman denganku lagi. Terpaksa aku menuruti permintaannya, karena dialah sahabatku satu-satunya. Aku berdiri dari bangku di kamar ganti setelah selesai mengenakan sepatu bola. Namun tiba-tiba seseorang berdiri di depanku.

“Ya, Lee Minho, lebih baik kamu pulang dan jangan menampakkan diri lagi di club ini. Kami tidak butuh orang sepertimu” Ucap Yoojin, salah satu anggota club yang hanya menempati bangku cadangan untuk turnamen minggu depan. Aku mendengus kesal, jika dia meminta posisiku baik-baik akan kuberikan kepadanya dengan senang hati, tapi jika seperti ini maaf saja. Aku mendekatkan mulutku ketelinganya.

“Sebenarnya, jika kamu bicara baik-baik padaku agar aku menyerahkan posisiku padamu, dengan senang hati aku akan memberikannya kepadamu, tapi sepertinya aku tidak akan memberikannya dengan sikapmu itu.”  Bisikku padanya lalu meninggalkannya sendirian. Aku mengetahui kemarahannya lewat nafasnya yang tertahan.

. . .

Aku mendapat umpan dari kimbum dan segera menggiring bola. Bermain sepak bola sekarang rasanya berat sekali, bahkan untuk melewati seorang pemain aku kewalahan. Tiba-tiba saja aku merasakan sebuah kaki menyentuh kakiku, apa-apaan ini. Dalam hitungan detik tubuhku tersungkur ke tanah. Aku menyusuri kaki tersebut untuk mengetahui siapa pemiliknya. Mataku membulat, Yoojin, kurang ajar, dia mencari mati. Aku segera berdiri dan menatapnya dengan garang, sedangkan ia dengan santainya menatapku lalu tersenyum kecil.

“Apa maumu hah?” teriakku padanya, tanganku terkepal menahan emosi.

“Orang seperimu tidak pantas berada di lapangan ini.” Ucapnya santai.

BUG… tak tertahan lagi kepalanku melayang ke wajahnya. Yoojin langsung tersungkur ke tanah dan menyentuh hidungnya yang berdarah akibat pukulanku.

“Kurang ajar!!” serunya lalu berbalik menyerangku. Sudah dapat dipastikan hari ini aku akan berkelahi dengannya.

“Minho, Yoojin.. hentikan perkelahian kalian.” Seru pelatih. Aku merasakan bahuku di tahan sedangkan Yoojin sudah ditahan oleh beberapa anak club lainnya.

“Apa-apaan kalian? dalam tim seharusnya tidak ada pertengkaran seperti ini.” Ucap pelatih.

“Dia duluan pak yang mulai.” Ucap Yoojin. Sial aku terperangkap dalam jebakannya.

“Minho akhir-akhir ini kamu berubah, permainanmu jelek sekali, tidak konsentrasi. Padahal kukira dengan memasukkanmu dalam tim inti kamu akan berusaha sekuat tenaga.” Serunya padaku. Sial.

“Aku berhenti dari club sepak bola mulai saat ini.” Ucapku lirih lalu meninggalkan mereka semua.

“YA.. apa-apaan kamu!” seru pelatih namun aku tetap berjalan meninggalkannya. Dapat kurasakan tatapan sedih Kimbum padaku yang ada tepat dibelakangku saat itu.

. . .

Author POV

Lee Minho berlari  tanpa mempedulikan apapun. Tanpa sadar dompetnya terjatuh di jalan yang sangat ramai. Lalu beberapa saat kemudia seorang wanita mengambilnya.

“Tuhan, mungkin ini jawabanmu atas doaku.” Ucapnya setelah membaca kartu identitas yang ada dalam dompet Lee Minho.

.  .  .

Lee Minho POV

Pagi ini aku membolos lagi, setelah melangkahkan kaki dari rumah aku menuju taman dekat sekolah. Aku butuh ketenangan. Kemarin setelah pulang dari kegiatan club, kekasih ayah datang kerumah dan memasak makan malam, dengan seenaknya ia memakai celemek favorit ibu. Aku membentaknya, aku tahu ia sangat terkejut mendengar perkataanku waktu itu dan ayah segera memarahiku sedangkan aku langsung berlari dan mengurung diri di kamar sampai pagi ini.

“Oppa, kenapa oppa ada di sini ini kan masih pagi?” tanya sebuah suara padaku. Suara yang sudah ku kenal sejak seminggu ini. Aku menatapnya dengan tatapan kosong.

“Dihari yang cerah ini lebih baik berjemur daripada belajar.” Jawabku sambil merebahkan punggungku di kursi taman.

“Tapi bagaimana dengan kegiatan club?” ah, berisik sekali orang ini, aku hanya mendiamkannya.

“Oh jadi hari ini hari tutup mulut ya?” tanyanya lagi, demi tuhan aku hanya ingin sedikit ketenangan. Aku tak menjawabnya sama sekali.

“Wwaaaah neomu yeppeoda, bunganya cantik banget.” Serunya sambil mengamati bunga yang ada di sekitar taman.

“Oppa, apa kamu tau? Bentuk bunga dibuat supaya cocok untuk jenis serangga yang mengumpulkan madu, jadi serangga dengan mudah mengumpulkan madu. Bumi itu benar-benar dirancang dengan bagus ya. Semua kebutuhan untuk jiwa sekecil apapun ada.” Aku tertunduk mendengar perkataannya.

“Begitu ya? Lalu bagaimana denganku? Aku tidak pandai dan tidak punya cita-cita. Lalu untuk apa aku hidup?” ucapku tanpa menatapnya. Ia terpana mendengar ucapanku.

“Oppa bicara apa sih? Oppa hidup ya untuk bertemu denganku.” Ucapnya dengan senyum lebar yang manis itu.

“Kalau oppa tidak ada, aku pasti sendirian di taman ini dan aku pasti sangat kesepian, coba bayangkan!” jawabnya, tanpa sadar aku mulai membayangkan tiba-tiba saja perasaan yang aneh mengalir di dadaku.

“Aku bersyukur oppa ada di sini, aku bersyukur bisa ngobrol dengan oppa. Aku sangat senang, senang sekali.” Aku menatapnya haru, tuhan apa benar dia malaikan yang engkau turunkan untuk menyelamatkan jiwaku? Entah kenapa aku juga merasa senang bertemu dengannya.

“Sebenarnya kamu itu makhluk apa?” tanyaku tidak dengan tatapan kosong lagi.

“Malaikat.” Ucapnya semangat, lagi-lagi ia mengakui hal yang tidak bisa di percaya dan hampir kupercayai.

“Mana mungkin! Jawab yang benar!” seruku, “Apa kamu temanku waktu kecil? Hei mau kemana” ia terlihat akan pergi.

“Ah, tunggu disini oppa.” Lalu ia pergi mendekati seorang wanita, wanita itu membuat simbol-simbol dengan tangannya lalu Hwayoung membalas simbol-simbol itu. Aku terperangah, bahasa isyarat, dia bisa bahasa isyarat, hebat. Tak lama kemudian ia kembali.

“Tadi bicara apa?” tanyaku antusias, aku salut pada kemampuannya.

“Tadi kakak itu tanya halte bus ada di mana, lalu aku menjawab di seberang gedung itu.” Ia terlihat sangat senang.

“Hebat!” aku memujinya.

“Kalau latihan siapapun pasti bisa, dulu aku masuk club bahasa isyarat, makanya aku bisa.” Ucapnya santai.

“Eh, malaikat masuk club?” ucapku tepat sasaran, wajah hwayoung langsung merah padam.

“Club dari sekolah mana? Aku tidak mengenalmu, kenapa kamu bisa mengetahui tentang aku? Ayo ceritakan padaku?” aku menggodanya, wajahnya semakin merah. Aku tertawa melihatnya.

“Kalau aku ceritakan paling oppa juga sudah lupa, apalagi sementara ini aku tidak sekolah.” Jawabnya dengan wajah murung, hah secepat itukah mimik mukanya berubah?

“Kenapa? Apa kamu sakit?”

“Ya begitulah oppa.” Jawabnya masih dengan wajah sedihnya, padahal dia terlihat sehat-sehat saja.

“Gwanchana, kamu pasti akan sembuh, pasti sembuh. Jadi kamu bisa ke sekolah lagi. Kalahkan penyakitmu, jangan menyerah, aku akan mendukungmu.” Ucapku berapi-api, ia menatapku lalu dari kedua airmatanya berlianang air mata.

“Terimakasih oppa.” Ucapnya lalu kembali tersenyum. Deg deg deg.. tiba-tiba saja jantungku berdebar, senyumnya manis sekali. Apa wajahku sedang bersemu sekarang?

“Oppa, kamu tidak pernah berubah selalu ramah dan baik hati.” Ucapnya, aku hanya memandangnya.

“Ah, hari ini ayahku memanggil. Oppa, ingatlah mimpi yang telah oppa lupakan, pasti akan terkabul, aku yakin. Aku juga akan berusaha sekuat tenaga untuk sehat kembali. Supaya mimpi kita berdua terwujud. Jangan lupa ya..” katanya sambil memberikan jari kelingkingnya padaku, akupun menautkan jari kelingkingku di jarinya.

“sampai jumpa oppa.” Lalu ia pergi seperti biasanya.

. . .

“Minho ya, ada apa denganmu? Apa kamu tidak belajar di rumah? Bagaimana bisa kamu mendapatkan nilai seperti ini? Kamu juga keluar dari club sepak bola, sebenarnya apa maumu? Kamu itu punya semangat belajar tidak?” sambil membagikan hasil ujian pak guru menceramahiku.

“Sama sekali tidak, hanya saja jika aku tidak sekolah ayah pasti ribut, jadi apa boleh buat.” Ucapku sambil meremas kertas ujian itu dan membuangnya. Aku bolos lagi, dan mungkin untuk selamanya.

. . .

Disini sunyi sepi, namun kurasakan angin bertiup dengan kencang. Aku memandang ke bawah, orang-orang sibuk berlalulalang, terlihat kecil dari sini. Mungkin hidupku memang konyol karena memilih tempat ini sebagai tempat terakhirku hidup di dunia. Seekor burung merpati yang hinggap di pagar pembatas atap gedung ini menatapku keheranan. Apa dia bisa membaca pikiranku? Batinku, namun aku tak ambil pusing tentangnya. Perlahan-lahan aku memanjat pagar pembatas yang ada dihadapanku. Kupejamkan mataku, inilah saatnya aku menyusul ibu.

“JANGANNNN…” Seru seseorang di belakangku. Tiba-tiba saja kakiku diseret kebelakang dan akupun jatuh menimpanya.

TBC

annyeong, rin balik membawa kelanjutan ff dari sora eonnie..
oiya, rin mau tanya. kira-kira apa masih ada yg berminat nungguin lanjutan 123 part 5 ga? kalo ada rin usahain lanjutin ntu ff.. karena kemaren-kemaren rin sempet mau nyetop ntu ff..
tolong dijawab ya reader, kalo ga juga ga papa, malah rin lebih seneng.. 🙂

ya udah, segitu aja..

Iklan

2 thoughts on “[Freelance] Janji Peri Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s